Haid adalah bagian dari fitrah atau kodrat alami wanita. Fitrah merujuk pada keadaan asli atau kodrat yang diberikan Allah kepada manusia. Dalam konteks wanita, haid adalah salah satu aspek dari fitrah tersebut. Saat haid, banyak hal yang tidak bisa dilakukan terutama ketika beribadah. Hal itu karena salah satu syarat sah mengerjakan ibadah yaitu suci dari hadas dan najis. Sedangkan haid termasuk hadas besar. Lalu bagaimana jika haid saat hendak melakukan umrah atau haji? Haruskah dia menunda dan menunggu sampai suci dari haid?

Menurut Imam asy-Syafi’i, tidak ada larangan bagi perempuan haid untuk berihram. Bahkan ihram yang dia niatkan tetap dianggap sah sekalipun sedang dalam kondisi haid. Dia juga tidak diharuskan membayar fidyah apapun karena telah berihram dalam keadaan haid. Mengingat suci dari hadas kecil maupun besar tidak menjadi syarat sah ihram. Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat hadits berikut,

Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda

الحائض والنفساء إذا أتتا على الوقت تغتسلان وتحرمان وتقضيان المناسك كلها غير الطواف بالبيت

“Wanita nifas dan haid, bila keduanya mendatangi miqat, hendaknya keduanya mandi dan berihram serta menunaikan Manasik seluruhnya selain thawaf di Baitullah.” (HR. Abu Dawud No. 1744 dan selainnya, disahihkan dalam Sahih Abi Dawud)

Dari riwayat hadits di atas dapat dipahami bahwa perempuan yang sedang haid atau nifas boleh dan sah melakukan seluruh rangkaian ibadah umrah dan haji, termasuk berihram ketika berada di miqat makani. Jemaah yang sedang haid hanya dilarang melakukan thawaf dan shalat-shalat sunnah yang dianjurkan dalam rangkaian manasik, seperti shalat sunnah setelah ihram atau shalat sunnah di belakang Maqam Ibrahim seusai menunaikan thawaf. Status yang dia sandang setelah berihram juga sama seperti jemaah lain yaitu sebagai muhrimah atau wanita dalam kondisi ihram, mereka terikat dengan semua larangan-larangan ihram. Ini mencakup larangan memotong kuku, mencukur rambut, dan lain sebagainya.

Memang terdapat pendapat ulama lain yang menyebutkan bahwa wanita yang merasa haidnya akan segera berakhir dianjurkan untuk menunda ihramnya sampai suci. Ini karena berihram dalam kondisi suci dianggap lebih baik dan dianjurkan. Namun, dalam konteks jemaah haji indonesia, dimana banyak orang terikat dalam kelompok atau rombongan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, pilihan ini mungkin tidak selalu dapat diambil.

Wallahu A’lam.